Tampilkan postingan dengan label bedah buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bedah buku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 April 2009

Diskusi & Bedah Buku "Sintong Panjaitan Perjalanan Seorang Prajurit Komando

Hari: Rabu, Tanggal: 29 April 2009
Waktu: Pkl.10.00 WIB
Tempat: Leksika Lenteng Agung
Pembicara:
1. Sintong Panjaitan *)dalam konfirmasi
2. Hartojo Wignjowijoto (Founder/Chairman Institute of National Capacity Studies)
3. Prof.Dr.Sumaryo Suryokusumo

Moderator: Dr. Indria Samego

Acara ini GRATIS, namun untuk membantu kami menyediakan tempat, mohon kesediaannya untuk konfirmasi kehadiran melalui:

> CSO Leksika Lenteng Agung, Jl.Raya Lenteng Agung No.101, depan PDIP Jakarta Selatan telp.7806566 SMS: Somantri 021-33725636, email: boay_oke@yahoo.com

http://tokobukuLeksika.blogspot.com

Selasa, 31 Maret 2009

Diskusi & Bedah Buku "Menantang Seorang Diktator (Perjalanan ke Jerman)" bersama Sri Bintang Pamungkas

Ikuti Diskusi & Bedah Buku "Menantang Seorang Diktator (Perjalanan ke Jerman)" dengan Pembicara:

> Dr.Ir.Sri Bintang Pamungkas,Ph.D (Penulis & Pembicara)
> Dr.Pande Raja Silalahi (Pembicara/Pengamat Ekonomi)
> Prof. Arbi Sanit (Pembicara/Pakar Politik)
> Suciwati (istri Alm.Munir, Pembicara sebagai saksi hidup korban represif ORBA, dari LSM KONTRAS)
> Dr.Imam B.Prasodjo (Pembicara/Sosiolog UI)

Moderator: Bane Raja Manalu (Reporter RCTI)

"Tiga Zaman Perjalanan Republik (Rezim Soeharto - Reformasi - Indonesia Baru)"

"...bagi saya yang paling berat adalah tuduhan pengkhianat bangsa. Apakah yang menuduh itu adalah pahlawan bangsa?! Saya rasa jangan terlalu mudah menuduh orang sebagai pengkhianat bangsa... Saya lihat Bintang itu seorang intelektual. Sebagai intelektual yang baik, Ia selalu membela kebenaran dan kejujuran. Ini beda dengan politikus yang bisa bohong dan menipu, bahkan jual harga diri kalau perlu. Intelektual berjalan dengan keimanan, tapi politikus imannya bisa kosong. Karena diarahkan ke politik Bintang dianggap musuh politik dan harus dihancurkan..." (Ali Sadikin, Petisi 50 1995)

Hari, Tgl : Selasa, 7 April 2009
Tempat : toko buku LEKSIKA, Jl. Raya Lenteng Agung No.101 Jakarta Selatan
Waktu : Pkl.10.30 s/d selesai

Acara Talk Show ini GRATIS, namun untuk membantu kami menyediakan tempat, mohon kesediaannya untuk konfirmasi kehadiran melalui:

> CSO Leksika Lenteng Agung, Jl.Raya Lenteng Agung No.101, depan PDIP Jakarta Selatan telp.7806566 SMS: Somantri 021-33725636, email: boay_oke@yahoo.com

http://tokobukuLeksika.blogspot.com

Senin, 09 Februari 2009

Di sela-sela Bedah Buku Marketing Politik... Yus Usman: Penurunan BBM, Hanya Dinikmati Sebagian Masyarakat




Bedah Buku Marketing Politik oleh penulisnya Firmanzah,PhD dan Yus Usman Yusman, Sekjen DPP Partai Hanura diadakan Senin, 9 Februari 2009 di toko buku Leksika Lenteng Agung. Acara Bedah buku sekaligus re-launching buku Marketing Politik edisi baru yang diterbitkan oleh Yayasan Obor ini berlangsung meriah dengan dihadiri oleh 50 peserta. (foto dok Leksika)


Penurunan BBM, Hanya Dinikmati Sebagian Masyarakat, Indowarta

Penurunan harga BBM sebanyak tiga kali, yang menjadi bahan kampanye keberhasilan pemerintah, rupanya dinilai berbeda oleh Partai Hanura. Partai yang mengusung Wiranto sebagai capres itu menilai, penurunan BBM belum maksimal, dan belum menunjukkan rasa keadilan di masyarakat.

“Penurunan harga BBM sekarang ini hanya baru bisa dikmati oleh sebagian orang saja, bukan seluruh lapisan masyarakat. Artinya hingga saat ini belum ada keadilan di masyarakat soal penurunan harga BBM,” cetus Sekjen DPP Partai Hanura Yus Usman Yusman di sela-sela acara bedah buku, di toko buku Leksika, lenteng Agung, Jakarta Selatan (9/2).

Dalam kesempatan ini, Yus juga melontarkan janji Partai Hanura yang akan mengurangi kemiskinan jika berhasil memenangkan Pemilu 2009. “Sesuai visi dan misi dari partai Hanura untuk mengentaskan kemiskinan maka kalau Hanura ditakdirkan Tuhan dalam 2009 nanti keluar sebagai pemenang Pemilu, maka kita akan mengubah bangsa Indonesia secara dramatis,” ujarnya.

Dalam acara bedah buku ”Marketing politik” karya Firmanzah Phd, ini, Yus Usman mengatakan satu hal yang harus diingat mengenai marketing politik adalah nilai-nilai yang harus diperhatikan para pemimpin parpol. “Bicara marketing politik adalah bicara nilai”, tegasnya.

Nilai – nilai yang harus diperhatikan disini adalah seperti creating, communicating, dan delivery. Dalam proses creating kita harus memiliki nilai yang unggul dibandingkan para pesaingnya, dengan memiliki nilai yang unggul diharapkan nantinya kita akan mendapatkan benefit yang yang tinggi.

Namun sampai saat ini kita masih memiliki beberapa hambatan dalam mensosialisasikan hal tersebut, yakni mengenai tingkat tingkat pendidikan masyarakat, yang hingga sekarang menjadi hambatan kita dalam menyampakan gagasan. “Gagasan ini baru sampai di tingkat menengah keatas, sedang untuk kalangan bawah belum terpenuhi, “ ujarnya.

Diakuinya, tugas dari para kader dan fungsionarisnya sudah menanti. “Sudah menjadi kewajiban bagi orang-orang Hanura, untuk membawa nama Hanura agar memiliki nilai jual di masarakat,” timpalnya. (RON/ndra/Friz)

sumber:http://indowarta.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5303&Itemid=58

Jumat, 30 Januari 2009

Talk Show The Miracle of Giving bersama Yusuf Mansur

Yusuf Mansur menulis buku ini dengan rasa cinta
* agar pembaca percaya bahwa ada kekuatan lain di kehidupan kita, yakni kekuatan Allah.
* Agar pembaca tidak usah kelelahan mencari dunia yang sejatinya sudah Allah berikan...
* Agar pembaca tidak putus asa dalam mencari rezeki yang sesungguhnya mudah...
* Agar pembaca tahu betapa mudahnya menundukkan dunia...
* Agar pembaca lebih ikhlas, lebih riang, lebih lepas dalam beribadah.
* Agar pembaca tahu bahwa mencari kekayaan dan menjadi kaya itu mudah, tidak perlu susah.

Buku ini mengupas filosofi dan segudang teori di balik RAHASIA SEDEKAH. Anda akan tercengang dengan pembahasan-pembahasan yang sangat ilmiah, metodologis tentang sedekah, tapi tetap dengan bahasa yang ringan, renyah, mudah dan menyenangkan untuk dibaca dan dipahami.

Keajaiban apa yang sedang Anda butuhkan? Buku ini insya Allah bisa menghantarkan Anda ketemu cara mendapatkannya; menjadi kaya, memiliki pekerjaan dengan gaji dan karir yang mengangumkan, melesatkan hasil usaha, hingga ke urusan-urusan menjauhi penyakit, utang, anak keturunan, jodoh, dan kematian yang husnul khatimah.

Hadiri Talk Show The Miracle of Giving bersama Ust.Yusuf Mansur pada:

Tempat : toko buku Leksika Rawamangun Jl.Pegambiran No.55 Jakarta Timur telp.4786-9277
Waktu : Minggu, 8 Februari 2009 pukul 16.00 WIB

Tempat : toko buku Leksika Lenteng Agung Jl.Raya Lenteng Agung No.101 Jakarta Selatan telp.780-6566
Waktu : Sabtu, 14 Februari 2009 pukul 12.00-14.00 WIB

Acara Talk Show GRATIS, namun untuk membantu kami menyediakan tempat, mohon kesediaannya untuk konfirmasi kehadiran melalui:
Lenteng Agung CSO telp.780-6566, SMS: Somantri 0856-8064-518 email: boay_oke@yahoo.com
Rawamangun CSO telp.4786-9277, SMS: Ghia 0856-1844-163 email: alkha03@yahoo.com

Kamis, 22 Januari 2009

Mooryati Soedibyo akan membuka acara Bedah Buku HR Excellence: Kisah Sukses Para Kampiun SDM di Leksika

Bedah buku HR Excellence: Kisah Sukses Para Kampiun SDM dengan tema: “Kesiapan Berubah sebagai Alternatif Jawaban Menghadapi Tantangan Krisis Global 2009” yang disunting oleh Budi W. Soetjipto, Ph.D.; Sahala Harahap ; dan M.A. Kristanto.

Buku ini mengangkat kisah sukses berbagai perusahaan dalam mengembangkan sumber daya manusianya. Perusahaan-perusahaan ini merupakan nominator HR Excellence award, sebuah ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Lembaga Manajemen FEUI, majalah SWAsembada, dan Yayasan Human Resources Indonesia.

Perusahaan apa sajakah yang berhasil menjadi nominator dan pemenangnya? Sejauh manakah kesiapan perusahaan dalam menghadapi badai krisis global di 2009? Dapatkan jawabannya pada acara bedah buku yang akan diselenggarakan pada:

Hari/Tanggal : Sabtu, 31 Januari 2009
Waktu : 11.00–selesai
Tempat : Toko Buku Leksika Lt. 3, Jl. Raya Lenteng Agung No. 101 (depan kantor PDIP), Jakarta Selatan 12610 telp.780-6566

Pengisi acara :
1.Bapak Budi W. Soetjipto, Ph.D. (Managing Director LM-FEUI)
2.Bapak Sahala Harahap (Direktur Program HRI)
3.Bapak Andre Vincent Wenas, M.M., M.B.A. (Chief of Corporate Human Capital-Tudung Group)

Acara ini akan dibuka oleh Ibu Mooryati Soedibyo (Presiden Direktur Mustika Ratu/Wakil Ketua MPR RI)

Acara ini GRATIS, namun untuk membantu kami menyiapkan tempat, mohon menghubungi Rida: 021-781 8616/0813-19414438/ Aulia: 021-781 8616/0819-32565639

Senin, 19 Januari 2009

Talk Show & Bedah Buku "Cinta yang Utuh"

Penulis : Yudhi Baihaqi
Penerbit : DAR Mizan
Harga Normal : Rp.26.000
Harga Promosi : Rp.15.000

“Saya berusaha meyakinkan orang tua bahwa saya dapat merawat anak-anak saya, saya tidak berkata kepada mereka bahwa saya punya cukup materi, melainkan: Saya ingin anak-anak saya tumbuh bersama saya, memahami kehidupan saya, dan menyaksikan sendiri perjuangan saya, sebagai orang tua mereka dan sebagai seorang perempuan penyandang cacat.”

Itulah sepenggal kisah para penyandang cacat yang tetap optimis dalam menghadapi hantaman hidup yang sudah tidak bersahabat lagi. Bagaimana dengan kita, apa kita masih optimis dengan kondisi fisik yang masih lengkap dan kuat? Atau kita kalah sama mereka?

Inilah buku yang merangkum sejumlah kisah-kisah pengalaman perjuangan para penyandang cacat yang patut kita renungkan bersama. Betapa besar dan kuat jiwa mereka!

Hadirilah Talk Show & Bedah Buku Cinta yang Utuh dengan pembicara Yudhi Dzulfadli Baihaqi dan dapatkan Buku Cinta yang Utuh dengan harga promosi Rp.15.000. Dan 20% dari keuntungan penjualan Buku Cinta yang Utuh akan didonasikan untuk penyandang cacat.

Tempat : toko buku Leksika Rawamangun Jl.Pegambiran No.55 Jakarta Timur telp.4786-9277
Waktu : Sabtu, 7 Februari 2009 pukul 16.00 WIB

Tempat : toko buku Leksika Lenteng Agung Jl.Raya Lenteng Agung No.101 Jakarta Selatan telp.780-6566
Waktu : Minggu, 8 Februari 2009 pukul 16.00 WIB

Selasa, 09 Desember 2008

Bedah Buku Teknologi di Nusantara: 40 Abad Hambatan Inovasi

Hari/Tanggal : Sabtu, 13 Desember 2008
Waktu : 09.30 – selesai
Tempat : toko buku Leksika Lt. 3
Jl. Raya Lenteng Agung No. 101 (depan kantor PDIP) Jagakarsa Jakarta Selatan 12610
Pengisi acara : 1. Prof. M. Sahari Besari (penulis)
2. Ninok Leksono (redaktur senior Kompas, sebagai moderator)
3. Prof. Dr. Wahono Sumaryono (Peltu Ka. BPPT, sebagai pembahas 1)
4. Drs. Iwan M. Pirous, MA (Dosen Antropolog UI, sebagai pembahas 2)

RSVP: Konfirmasi kehadiran mohon dilakukan paling lambat tanggal 11 Desember 2008, melalui Resthi: 021-781 8616/0815-8182878, Aulia: 021-781 8616/0819-32565639

Teknologi di Nusantara: 40 Abad Hambatan Inovasi
Penulis: M. Sahari Besari

Buku yang mengupas perkembangan teknologi umat manusia relatif jarang ditemui, apalagi yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Lebih jarang lagi buku yang mengupas perkembangan teknologi yang dikaitkan dengan dimensi perkembangan budaya dari masa ke masa.

Demikian pula di Indonesia, perkembangan teknologi dapat dirunut ke belakang dari era manusia prasejarah Zaman Batu yang telah mendiami wilayah Nusantara. Meski banyak dipengaruhi oleh budaya dari luar, perkembangan teknologi di wilayah Nusantara relatif stagnan, kurang berkembang, dan kurang berkontribusi terhadap pembentukan cikal-bakal ilmu pengetahuan (sains). Meski diakui bahwa beberapa dekade lalu pada akhir era penjajahan Belanda, banyak perkembangan ilmu pengetahuan yang telah disumbangkan, namun kini menjadi tanda tanya besar bagaimana kontribusi tersebut terhadap teknologi dan kemakmuran bangsa?

Sebagai pakar teknologi sekaligus pemerhati masalah sosial budaya, M. Sahari Besari dengan tepat meramu keterkaitan teknologi dengan upaya penciptaan kemakmuran umat manusia. Berawal dari pertanyaan besar yang acap kali diajukan orang yaitu, “Apakah bangsa Indonesia mampu bangkit dari krisis maha dahsyat yang berawal di tahun 1998 lalu?”, M. Sahari Besari melakukan pengamatan, pengkajian, serta riset mengenai relasi timbal balik antara masyarakat dan teknologi dengan tujuan utamanya untuk menyoroti pengaruh teknologi terhadap perkembangan umat manusia, terutama yang bermukim di Nusantara.

Dari uraian komprehensif layaknya seorang sejarawan yang bercerita—dari zaman Prasejarah, masa Yunani-Romawi Kuno, Renaissance, Kolonialisme hingga masa milenium ini—M. Sahari Besari mampu mengidentifikasi bahwa budaya yang berkembang di Nusantara ini memiliki kontribusi terhadap lambannya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Nusantara. Mengapa dan bagaimana semua ini terjadi merupakan pertanyaan yang kemudian diajukan, namun yang lebih penting adalah apa saja langkah dan cara untuk mengembangkan teknologi di Nusantara yang selanjutnya akan mampu membawa keadilan dan kemakmuran bagi seluruh bangsa Indonesia.

Buku ini ditujukan bagi kalangan akademisi, peneliti, dosen, mahasiswa, birokrat perumus kebijakan, praktisi, dan siapa saja yang memiliki perhatian terhadap pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemajuan dan kemakmuran bangsa Indonesia.

Dapatkan Buku Teknologi di Nusantara: 40 Abad Hambatan Inovasi di toko buku Leksika
>>Leksika Lenteng Agung telp.780-6566
>>Leksika Rawamangun telp.4786-9277

Jumat, 07 November 2008

Talk Show dan Bedah Buku Let Me Stand Alone (Biarkan Aku Berdiri Sendirian)

Goresan pena yang menggegerkan dunia karya gadis Amerika yang dilindas Buldozer hidup-hidup demi Palestina!

Hari/Tanggal : Sabtu, 29 Nov'08
Waktu : Pkl.14.00 wib sd selesai
Narasumber : Keluarga Besar Penulis ( Rachel Corrie ) dan tim editor
Tempat : Leksika Rawamangun

Judul Buku: Let Me Stand Alone
(Biarkan Aku Berdiri Sendirian)
Penulis: Rachel Corrie
Penerjemah: Alpha Sally Arifin dkk.
Penerbit: Madia, Jakarta


Wariskan Spirit Perdamaian
''Kita lahir dan kelak mati. Semua akan merasai sendiri. Kesendirian kita di dunia ini, mungkin tak berlangsung selamanya. Mungkin kebebasan bisa menghilangkannya...''

Demikian salah satu renungan Rachel Corrie dalam buku ini. Renungan itu tak muncul secara tiba-tiba, tetapi lewat suatu proses nan panjang; seumur hidup Rachel. Seusai membaca buku ini, kita pun akan menggangap bahwa Rachel selalu menghidupkan nalar empati dalam jiwanya.

Rachel berangkat ke Rafah atas prakarsa International Solidarity Movement (ISM). Di wilayah konflik Israel-Palestina yang berbatasan dengan Mesir itu, sang maut menjemputnya.

Sore hari, 16 Maret 2003, iring-iringan tank dan buldoser tentara Israel memenuhi jalanan di Rafah. Mereka bersiap menggusur rumah warga Palestina. Ketika satu buldoser jenis Caterpilar D-9 bergerak menuju sebuah rumah, Rachel menghadangnya seperti seorang polantas menghentikan mobil di jalan. Rachel berteriak ''Stop!'' berulang-ulang akhirnya meregang nyawa setelah digilas rantai baja buldoser.

Goenawan Mohammad dalam pengantarnya dalam buku versi Indonesia itu mengatakan bahwa kematian bukan sesuatu yang harus disesali. Setiap kita yang ''ditinggalkan'' bisa menyerap pelajaran penting dari sebuah kematian. Rachel tidak meninggal dengan kesia-siaan, sebab catatan harian yang ditulisnya sejak duduk di taman kanak-kanak bisa membuat orang lain tahu tentang cara mengembangkan empati, berpihak pada yang lemah dan menegakkan perdamaian lewat jalan tanpa kekerasan.

Rachel sama seperti individu lain di dunia ini. Ketika membaca catatannya, kita bisa meresapi kecemasan, kesedihan, dan kebahagiaan serta mimpi yang kerap mendatanginya dari waktu ke waktu. Si bungsu dari tiga bersaudara itu menuliskan rona hatinya dalam esai dan puisi yang bisa membuat kita tertawa dan murung. Bahkan, sejumlah catatan Rachel di masa kanak-kanak mampu membuat kita terperangah sebab permenungan yang dilakukannya sungguh luar biasa.

Ketika berumur 12 tahun, saat Perang Teluk sedang berkecamuk, ia telah menggumpalkan sebuah kesimpulan yang memukau dalam esai protes bertitel Kepada Tentara. Dia mengatakan, ''Perdamaian dan kerja sama adalah prioritas cita-citaku.''

Rachel juga larut dalam percintaan dengan seorang lelaki bernama Collin. ''Cinta eksklusif'' itu tak membuat Rachel tercerabut dari kenyataan yang melingkupinya sehari-hari. Ia aktif memprotes kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang merugikan alam dan kebijakan diskriminatif yang menghalalkan penyerbuan ke negara lain. Semua protes Rachel ditulis dalam untaian kalimat yang menghentak dan indah. Rachel telah menemukan cita-citanya ketika masih kecil, yakni menjadi penyair.

Ya, Rachel adalah penyair yang menyulih kata-kata dari fakta di sekitar yang membuatnya sedih dan gembira. Ia seolah tak pernah berhenti untuk menajamkan analisanya mengenai interaksi positif antarmanusia melalui kerja-kerja kemanusiaan. Sejak kuliah, ia telah aktif di pusat krisis universitas untuk mendengarkan keluhan hidup teman-temannya dan ia juga menjadi garda terdepan dari organisasi perdamaian yang bermarkas di Olympia. Ia aktif menggalang gerakan tanpa kekerasan sejak jauh-jauh hari sebelum memutuskan berangkat ke Palestina. Sebuah keputusan yang sangat dicemaskan oleh orang tuanya.

Melalui catatannya, Rachel seolah membuktikan bahwa stigma yang melekat pada suatu kelompok masyarakat hanya bisa dihilangkan ketika pembauran terjadi tanpa syarat. Masyarakat dunia yang terkotak-kotak berdasarkan ideologi, agama dan ras gagal mengembangkan empati karena lebih mengedepankan kecurigaan dan ketakutan.

Manusia memiliki kebebasan untuk berhubungan dengan siapa pun di muka bumi. Rachel membuktikan bahwa keterbukaan, pengembangan empati, dan mengedepankan dialog bisa membuat ''proyek perdamaian'' di muka bumi bukanlah mustahil.

Rachel menajamkan empati dan prinsip damai tanpa kekerasan tak hanya lewat bergaul dengan sesama manusia, namun juga melalui buku. Benda inilah yang tampaknya menggiring pemikirannya untuk ikut dalam gerakan pasifis (pencinta kedamaian). Selain itu, kegiatan menulis --entah itu berupa puisi atau esai-- yang dilakoni sejak kecil merupakan ajang untuk merefleksikan kenyataan hidup yang berseliweran di depan matanya.

Buku ini tak hanya menyoal sebuah kematian. Tetapi lebih dari itu, kita bisa belajar bahwa mendidik anak agar mencintai perdamaian ialah pekerjaan mulia bagi kepentingan dunia. Anak-anak yang tumbuh dalam kondisi damai adalah benih yang akan menjadikan dunia sebagai tempat yang nyaman untuk dihuni. Orang tua Rachel telah memperkenalkan perbedaan sejak ia masih kecil, yakni ketika rumah mereka dijadikan home stay bagi siswa yang berasal Jepang dan Rusia dalam progam pertukaran pelajar.

Rachel telah membuktikan bahwa komunikasi merupakan hal penting untuk meluaskan gerakan perdamaian. Selama berada di Palestina, ia kerap mengirimkan email untuk dipublikasikan koran lokal di Olympia. Tulisan-tulisan Rachel turut berkontribusi dalam menggugah kesadaran warga Amerika Serikat agar mendesak pemerintahnya untuk menghentikan perang dan mewujudkan perdamaian di dunia.

Rachel menggunakan kebebasan untuk menebarkan empati, mewujudkan perdamaian dan merekam peristiwa melalui kegiatan menulis --hingga buku ini menjadi warisan darinya untuk warga dunia. Walau akhirnya, ia tak kuasa menghadapi sekelompok manusia yang lebih memilih memanfaatkan kebebasan untuk melakukan aneksasi, membunuh dan merugikan pihak lain. Kematian Rachel kiranya membuktikan bahwa kekerasan tak pernah pantas dijadikan pilihan untuk menyulam perdamaian di muka bumi. (*)

Fenny Aprilia, alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
sumber: jawapos