Kamis, 30 Mei 2013

Recommeded Book: Semesta Sebelum Dunia by Fadh Djibran

Semesta Sebelum Dunia

“Kau tahu, cinta pada mulanya selalu tentang mendengarkan: ibu yang mendengarkan anaknya, anak yang mendengarkan orangtuanya, pasangan yang saling mendengarkan, Raja Semesta yang mendengarkan doa-doa umatNya, manusia yang mendengarkan pesan dan cinta Tuhannya. Pertama-tama, mencintai adalah tentang mendengarkan!”

“Jika kau mencoba kelihatan pandai di mata orang lain, kadang-kadang kau harus menjauh dari kebenaran.”

 “Kau tahu, perempuan hamil yang bangun tidur dan langsung tersenyum, menurutku, selalu terlihat sangat cantik. Seperti juga ibumu. Banyak sebab yang membuat seorang perempuan hamil, ketika dia bangun pagi dan terbelalak kaget kemudian mempersembahkan senyumannya, selalu terlihat cantik. Cantik yang kumaksud di sini tentu saja bukan yang bersifat fisik. Entah kenapa, cantik yang kumaksud benar-benar terasa sampai ke dalam hati. Orang bilang, kecantikan yang terasa sampai ke dalam hati adalah kecantikan sejati.”

“Biarkanlah rahasia tetap menjadi rahasia. Kadang-kadang yang rahasia harus tetap ada agar hidup menjadi lebih menarik. Bukankah kalau seluruh rahasia terbuka hidup sudah tak menarik lagi untuk dijalani?”

“Tak semua jalan yang terlihat akan membawamu pada jalan yang benar. Kadang jalan yang benar adalah jalan yang tak terlihat oleh matamu. Jangan biarkan matamu yang memutuskan ke mana kau akan pergi, biarkanlah hatimu yang memutuskan ke mana kau ingin pergi. Penampakan adalah kilasan dari yang tidak jelas.”

“Apakah hidup semacam pertunjukan sirkus yang harus dilihat oleh hati yang menyala? Apakah melihat hidup harus dibarengi dengan keinginan menemukan keagungan di balik seluruh gerak? Melihat siapa yang menciptakan dan memiliki seluruh gerak?”

“Mungkin kalau Dia tak ada, kau juga tak ada. Namun, kalau kau tak ada, Dia tetap ada. Ini memang semacam iman. Namun, jangan salah, iman bukanlah semacam kepercayaan yang tolol dan buta. Atau kemurnian yang kosong. Mungkin istilah itu lebih tepat: Spiritualitas. Semacam rasa penghormatan otomatis terhadap kebesaran yang lebih agung, keluhuran yang lebih abadi daripada apa pun yang ada.”

“Setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri untuk menjadi baik. Aku hanya memberitahu bahwa yang baik itu baik dan yang buruk itu buruk, kadang memberikan contoh-contoh juga. Tapi setiap orang boleh berbuat baik dengan caranya sendiri-sendiri, seperti mereka boleh menjauhi hal-hal buruk dengan caranya sendiri-sendiri.

Apa yang terpenting dari membiarkan mereka melakukannya dengan cara mereka sendiri-sendiri?

Niat, kebebasan, dan perbuatan.

Aku tak mengerti. Tolong dijelaskan.

Pada mulanya segala sesuatu adalah niat. Semacam benih yang tumbuh dari dalam hatimu. Pada saat seseorang berniat melakukan hal yang baik dan berniat menjauhi hal buruk; itu sudah satu kebaikan. Pada saat mereka membiarkan diri mereka menimbang niat itu dengan kebebasan yang mereka miliki – menggunakan akal pikiran mereka, perasaan mereka, dan seterusnya – kemudian tahu dan mengerti bahwa yang baik itu baik dan yang buruk itu buruk, itu dua kebaikan. Dan pada saat mereka melakukannya, mengerjakan hal yang baik dan menolak hal yang buruk, itu kebaikan yang bahkan lebih besar daripada seisi semesta!”

“Selalu ada sesuatu. Sesuatu yang misterius, tetapi sangat bermakna. Itulah yang harus kau temukan … keindahan bukanlah yang kau dengar atau lihat. Keindahan adalah apa yang kau rasakan. Jauh sampai ke dalam hati.”

“Dan jeda membuat kita melihat ke dalam diri kita sendiri. Itu yang penting.”

Diambil dari blog sahabat, @septiadiah :  

http://septiadiah.wordpress.com/2013/05/12/semesta-sebelum-dunia/

Tidak ada komentar: